BUMDES Pacu Usaha Baru, Dorong Transformasi Ekonomi Desa

Sejak 2015, pemerintah telah menyalurkan dana desa sebesar Rp400,1 triliun. Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) penting untuk dilibatkan dalam melakukan transformasi ekonomi di desa.

Pewarta : Irwan Adhi Husada | Editor : Nurul Ikhsan

Bantenbisnis.com – Presiden Joko Widodo memberikan sambutan dalam acara peluncuran Sertifikat Badan Hukum Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan Rakornas BUM Desa 2021 di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Senin, 20 Desember 2021. Presiden mengatakan, di masa pandemi Covid-19, ekonomi pedesaan menjadi salah satu penyelamat di saat perekonomian di perkotaan terganggu.

“Semuanya harus berani mengubah, transformasi ekonomi di desa ini sangat penting sekali. BUM Desa juga harus bertransformasi, tidak rutinitas, tidak menggarap hal-hal yang hanya untuk desa, tapi juga punya visi besar, bisa lari ke pasar-pasar yang lebih besar, apalagi ke pasar-pasar ekspor,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi juga mengajak masyarakat untuk membangun dan menjadikan desa sebagai basis kegiatan ekonomi yang produktif. BUM Desa dan BUM Desa Bersama diharapkan memacu pertumbuhan usaha baru yang dibutuhkan masyarakat.

Presiden Jokowi meminta agar BUM Desa dapat mengonsolidasikan usaha rakyat untuk memudahkan pasokan yang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, perusahaan swasta maupun BUMN dapat melibatkan BUM Desa dalam setiap kegiatan yang dilakukan.

“Hasil-hasil perkebunan yang gede-gede rakyat hanya menonton, melihat tambang diambil keluar dari daerah, keluar dari desa, rakyat hanya menonton, libatkan. Nanti akan saya sampaikan secara tegas melibatkan BUM Desa, BUM Desa Bersama, dalam kegiatan-kegiatan mereka,” tambahnya.

Presiden Jokowi meminta agar BUM Desa dapat mengembangkan hasil produksi pertanian dan hortikultura ke pasar internasional. Sebagai contoh, sebuah desa di Kalimantan Timur telah mengekspor lidi dari kelapa sawit dan nipah, serta arang kayu halaban.

“Ini bagus sekali bisa melompat. Kalau ini namanya melompat karena tidak hanya berjualan di desa itu tidak berjualan untuk domestik tetapi sudah bisa masuk ke pasar ekspor dan sekarang ini peluang-peluang seperti itu sangat banyak sekali,” tutur Kepala Negara.

Jokowi juga cerita, ketika ke Kabupaten Ngawi menemukan seorang petani muda yang bisa menghasilkan alpukat yang besar-besar hasil dari kultur jaringan dengan tissue culture. Juga    mendapati pisang juga besar-besar dan bagus. “Seperti ini yang harus dikejar dan dikembangkan bersama oleh BUM Desa dan oleh BUM Desa Bersama. Kalau kualitasnya seperti itu, bukan sangat gampang, tapi sangat mudah, sangat mudah sekali untuk mengekspor,” katanya.

Ia berharap, desa bisa bekerja sama. Misalnya, dengan IPB atau universitas lain untuk peningkatan produk-produk hortikultura agar kualitasnya bisa lebih baik dan bisa masuk ke pasar yang lebih besar, ke pasar ekspor, misalnya.

Perlu diketahui, sejak 2015 hingga saat ini pemerintah telah menyalurkan dana desa sebesar Rp400,1 triliun. Ia mengingatkan agar penyaluran tersebut dapat dikelola dengan bijak dan tepat sasaran. “Hati-hati pengelolaan dana desa yang jumlahnya tidak sedikit, jumlahnya sangat besar sekali, sekali lagi Rp400,1 triliun, itu duit gede sekali. Begitu salah sasaran, begitu tata kelolanya tidak baik, bisa lari ke mana-mana. Ini perlu saya ingatkan,” tegasnya.

Secara rinci Presiden Jokowi menyampaikan, anggaran Dana Desa pada 2015 sebesar Rp20,8 triliun, tahun 2016 Rp46,7 triliun, tahun 2017 Rp59,8 triliun, tahun 2018 Rp59,8 triliun, tahun 2019 Rp69,8 triliun, tahun 2020 Rp71,1 triliun, dan tahun 2021 sebesar Rp72 triliun. “Kalau kita lihat APBD Desa juga meningkatnya drastis sekali. (Tahun) 2014 itu rata-rata Rp329 juta, 2015 itu sudah naik menjadi Rp701 juta, 2021 Rp1,6 miliar,” imbuhnya.

Presiden Jokowi menegaskan, sejak 2014 pemerintah telah berkomitmen untuk membangun Indonesia dari pinggiran, perbatasan, dan dari desa. Pembangunan yang dilakukan bersifat Indonesia sentris, bukan Jawa sentris. Pemerintah, menurut Presiden Jokowi, tidak hanya membangun proyek yang besar-besar, seperti jalan tol, pelabuhan-pelabuhan besar, atau airport atau bandara. Tetapi juga jalan-jalan di kampung, jalan-jalan di desa, embung-embung kecil yang ada di desa, dan memperbaiki pasar-pasar rakyat yang ada di desa-desa.

“Dari data yang saya miliki, fisiknya yang sudah terbangun itu juga kelihatan. Jalan desa, misalnya, sudah terbangun 227 ribu kilometer jalan desa, embung yang kecil-kecil 4.500 unit, irigasi 71 ribu unit, jembatan 1,3 juta meter, pasar desa ada 10.300 unit, BUMDes saat ini juga telah mencapai 57.200 unit. Ini kelihatan, kelihatan, kelihatan,” ujarnya.

Tak hanya itu, dana tersebut juga digunakan mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di desa. Di antaranya, pembangunan prasarana penyediaan air bersih sepanjang 1,2 juta kilometer, posyandu 38 ribu unit, polindes 12 ribu unit, hingga drainase 38 juta meter. Sumur 59 ribu unit, PAUD ada tambahan 56 ribu unit PAUD, fasilitas olahraga, MCK, untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat desa. (Eri Sutrisno)

By Irwan Adhi Husada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ikuti Berita Menarik Lainnya