WAHMI Lebak Kritisi Dugaan Limbah Cair dari PT Cemindo Gemilang Cemari Budiaya Ikan dan Sawah di Bayah

Pewarta : Adam Gumelar | Editor : Heri Taufik

Bantenbisnis.com, Lebak – Pencemaran lingkungan dari limbah yang berasal dari industri masih kerap terjadi diberbagai daerah. Seperti terjadi di Kabupaten Lebak, limbah cair yang disinyalir berasal dari dari pabrik Semen Merah Putih PT Cemindo Gemilang mencemari usaha bubidaya ikan mas di Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.

Sebelumnya, sempat viral di media sosial sebuah video yang merekam limbah cair mengalir di area pesawahan milik warga. Warga mengkhawatirkan limbah bisa membunuh usaha budidaya ikan, dan mencemari komoditi pertanian yang ditanam warga. Warga juga resah jika limbah bisa berakibat munculnya penyakit.

Limbah cair mengalir melalui saluran drainase yang berasal dari pabrik semen. Limbah cair tersebut menurut warga menyebabkan ikan emas dan nila yang dibudidaya oleh warga di sekitar Kali Cibayawak banyak yang mati mendadak. Akibatnya warga mengalami kerugian karena terancam gagal panen.

Adanya pencemaran dari limbah cair mendapat kritik keras dari aktivis lingkungan hidup. Direktur Eksekutif Daerah Wahana Mangrove Indonesia (WAHMI Lebak) Alif Ibnu Sina sangat menyayangkan pencemaran lingkungan kembali terjadi. Menurutnya, sudah banyak kasus pencemaran hingga pengrusakan alam terjadi di wilayah Kabupaten Lebak.

Menurut Alif, saat ini krisis lingkungan hidup semakin mengkhawatirkan. Sektor industri menurutnya masih belum berkomitmen menerapkan industri hijau. Industri masih abai dengan pentingnya membangun daya dukung lingkungan untuk menjamin keberlangsungan tatanan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Kirisis ekologi menurut Alif sudah menjadi ancaman serius, dan ancaman itu menurutnya ada disekitar lingkungan masyarakat. Jika ini dibiarkan, kehancuran ekologi tidak bisa di cegah. Dikatakannya, krisis ekologi tidak bisa dibiarkan. Semua stakeholder harus berkomitmen agar di Kabupaten Lebak tidak terjadi kehancuran ekologi yang lebih parah.

“Kita ketahui bersama air adalah sumberdaya alam primer untuk makhluk hidup, jika tidak cepat ditangani maka ini menjadi sumber masalah yang besar dan sistemik,” ungkap Alif Ibnu Sina kepada Adam Gumelar dari Aksiiklim.com (grup Bantenbisnis.com), Sabtu (24/04/2021).

Dikatakannya, air sungai yang tercemar akan bermuara di lautan dan tentunya limbah ini akan berdampak pada makhluk hidup dan ekosistem yang lebih luas di wilayah laut, seperti matinya biota laut, merusak ekositem di laut seperti mangrove, padang lamun, megabentos, ikan karang, dan terumbu karang.

“Kami meinta pihak pemerintah daerah Kabupaten Lebak melalui Organisasi Perangkat Daerah terkait seperti Dinas LH hingga Bupati Lebak, harus segera turun tangan dan menindak tegas kepada perusahaan industri ekstraktif (pertambangan) yang telah abai terhadap pencemaran lingkungan,” tegas Alif.

Dikatakan Alif, pihak pemda tidak boleh mengumbar izin pertambangan. Ia juga meminta pemda tegas kepada perusahaan yang telah serius mencemari bahkan merusak lingkungan. Alif meminta pemda Lebak melakukan mitigasi terhadap degradasi (kemunduran) ruang hidup dikawasan perusahaan tersebut.

“Penting kiranya pemerintah daerah Kabupaten Lebak untuk memperhatikan dan mengambil tindakan berupa langkah-langkah mitigasi terhadap degradasi, agar kualitas ruang hidup di kawasan perusahaan tersebut dapat terjaga dengan baik,” pungkasnya. ***

By Adam Gumelar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Berita Menarik Lainnya